“Kekayaan Laut Indonesia”


Disini saya akan menceritkan sedikit pengalaman yang saya pernah alami di atas kapal ikan asal juwana yang menggunakan alat tangkap purse seine.
Awal cerita pada saat PKL (praktek kerja lapangan) yang saya ikuti pada masa SMK saya,dengan background jurusan saya NKPI (Nautika Kapal Penangkap Ikan) jadi mengharuskan saya PKL di kapal ikan.Pada saat pemilihan tempat praktek saya dihadapkan oleh 4 pilihan tempat,yaitu: Jakarta,Pati,Pekalongan,Bali.Saat pemilihan tempat praktek banyak teman teman saya yang berebut praktek di di Bali,entah apa hal yang mempengaruhi mereka tetapi saya sendiri memilih praktek di Pati.Kenapa di Pati? karena saya ingin mencari pengalaman yang terdekat dahulu,kalok bahasa barang barunya itu testing.Tapi malahan ketagihan kerja disana,saya setelah lulus SMK lalu kerja lagi dikapal Pati selama 1 tahun.


Kabupaten Pati merupakan satu dari 35 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah yang mempunyai letak cukup strategis karena dilewati oleh jalan nasional yang menghubungkan kota-kota besar di pantai utara Pulau Jawa seperti Surabaya, Semarang dan Jakarta. Ibukotanya adalah Pati. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di Utara dengan sungai terbesar yang ada di daerah ini adalah Sungai Juwana yang bermuara di daerah Juwana. Ibukota Kabupaten Pati terletak ditengah-tengah wilayah Kabupaten, berada di jalur pantura Semarang-Surabaya.

Kebanyakan kapal dijuwana berbahan dari kayu yang dilapisi fiber,dan kebanyakan menggunakan alat tangkap purse seine dan beberapa kapal cumi.Dulu banyak yang menggunakan trawl tetapi seiring pemberlakuan pelarangan pengunaan alat tangkap tersebut karena memiliki dampak negatif yang banyak menjadikan banayak kapal trawl yang mendongkrok di muara sugai dan tidak digunakan lagi.

Sebelum berangkat kapal diisi dengan perbekalan yang digunakan nantinya pada saat di tengah laut,seperti : Beras,Solar,Minyak goreng,Buah-buahan,sayuran,es batu,bumbu dapur,makanan ringan,rokok,dsb.Pengisisan perbekalan tergantung banyaknya barang yang dibeli dan waktu pengisian di dalam palka.Biasanya berlangsung selama 3 hari.

Setelah selesai mengisi perbekalan,Kapal siap berangkat.Dengan cara ditarik kapal kecil seperti kapal pandu untuk keluar dari sungai tempat parkirnya.pada saat kapal menuju muara diadakan sebuah syukuran agar selamat dan dilindungi selama di tengah laut.Syukuran itu dilakukan oleh semua awak kapal.Setelah berdoa bersama,semua makanan dimakan oleh awak kapal,kata orang sana makan makanan yang sudah di beri doa itu berkah.Jadi setelah di doakan makanan tersebut di perebutkan oleh semua awak kapal.Tetapi dengan rasa kekeluargaan semuanya saling berbagi makanan satu sama lain.

Kapal melakukan perjalanan selama 2 hari 2 malam untuk menuju area penangkapan ikan atau lebih dikenal daerah fishing ground dimana tempat itu akan dilakukan operasi penangkapan ikan.Tujuan awal biasanya daerah laut madura.Ikan yang didapat sesuai dengan musim yang berlangsung disan

Peralatan Navigasi Peralatan navigasi yang digunakan di kapal adalah sebagai berikut :

GPS, alat ini berfunsi untuk menentukan posisi kapal, posisi penangkapan, kecepatan kapal dan lain-lain yang menunjang keperluan bernavigasi di laut. GPS yang digunakan adalah merek Garmin type GPS map 585. 3.5.2     

Fishfinder,alat ini digunakan untuk mendeteksi adanya segerombolan ikan didalam airdan mengetahui kedalaman perairan (Nainggolan, 2007).Fishfinderyang digunakan adalah merk Furuno color video sounder  FCY-667 .Alat navigasi konvensional, alat navigasi konvensional yang digunakan yaitu kompas magnet kompas magnet digunakan untuk mengetahui arah haluan kapal.

Radio VHF Radio VHF ini berguna untuk mengetahui dan mencari informasi pada saat operasi penangkapan ikan.menggunakan radio merk Icom type IC-707. Peta Laut Peta laut berguna untuk membantu dalam menentukan daerah penangkapan dan untuk menentukan perencanaan rute pelayaran. 3.6

Pukat Cincin Pukat cincin (purse seine) adalah alat penangkap ikan berbentuk hampir segiempat hingga trapesium yang terbentuk dari sejumlah gabungan lembaran webbing yang dipasangkan pada tali pelampung (float line) dan tali pemberat (lead line), dilengkapi dengan tali kerut (purse line) dan sejumlah cincin (purse ring).  Pukat cincin merupakan jaring yang sangat lebar yang melingkari atau mengurung kawanan  (schooling) ikan.  Bagian bawah jaring dipasangi tali kerut yang dapat ditarik untuk menutup bagian bawah jaring demikian juga sebagian jaring hingga tersisa sebagian jaring (bunt) sebagai penampung ikan untuk diangkat ke kapal (brailing). Panjang pukat cincin dinyatakan oleh panjang tali pelampung dalam meter dan kedalaman dinyatakan dengan kedalaman jaring dalam keadaan mata jaring tertutup (streched mesh).    Komponen utama jaring purse seine terdiri dari sayap, body, dan buntBunt adalah bagian jaring berukuran benang terbesar dan ukuran mata jaring terkecil, yang berfungsi menampung hasil tangkapan pada proses tahapan brailing. Ikan tujuan penangkapan: sardines, herring and mackerel, tuna (Ardidja, 2007). Purse seine sudah cukup lama dikenal oleh masyarakat nelayan terutama di Pantai Utara Pulau Jawa, Alat tangkappurse seinemerupakan alat penangkap ikan yang dalam pengoperasiannya bertujuan untuk melingkari gerombolan ikan dalam bentuk kantong besar, panjang jaring purse seine tidak lebih dari 420 meter dengan sasaran utamanya adalah ikan pelagis kecil, seperti : ikan Layang, ikan Tembang, ikan Lemuru dan ikan Kembung (DJPT, 2006). Purse seineyang digunakan oleh nelayan di KM. Soyo Lumintu dengan panjang 420 meter mempunyai letak kantong di bagian tengah atau sering disebut juga type pekalongan sehingga ketika hauling kedua bagian sayap ditarik secara bersamaan dengan tenaga manusia saat penarikan jaring ke atas geladak kapal. Adapun bagian-bagian alat tangkap purse seineadalah : 1.      Sayap jaring (wing),Sayap terletak pada bagian kiri dan kanan badan jaring, dengan material pembentuknya PA 210 D/6 dengan mesh size 25 mm.  sayap jaring berfungsi sebagai alat untuk mengiring ikan kedalam areal tangkap dari purse seine. 2.      Badan jaring (body), badan jaring terletak pada bagian kiri dan kanan dari pada kantong, bagian badan jaring berfungsi membentuk jaring menjadi menyerupai kantong. Material pembentuknya adalah PA 210 D/6 dan PA 210 D/9 dengan mesh size 25 mm, dan juga berfungsi sebagai penggiring ikan ke bagian jaring. Dengan demikian maka ikan-ikan akan dengan mudah terkumpul pada bagian kantong. 3.      Kantong(bunt), kantong yang terletak dibagian tengah jaring dengan material pembentuknya PA 210 D/12 dengan mesh size 18,75 mm..Yang dimaksudkan dengan kantong adalah bagian jaring yang pada waktu penarikan tali kolor dengan serentak membentuk suatu kantong, yang nantinya akan berfungsi sebagai tempat untuk mengurung/mengumpulkan ikan.  Karena berfungsi sebagai penadah maka kantong memiliki ukuran mata jaring yang lebih kecil dan nomor benang yang lebih besar dibandingkan dengan mata jaring dan nomor benang yang terletak pada badan dan sayap sehingga diharapkan ikan-ikan yang telah terkumpul pada bagian kantong tidak dapat meloloskan diri dan jaring tidak sobek karena beban yang berat. 4.      Srampat (selvage), selvage merupakan mata jaring penguat yang dipasang untuk melindungi bagian pinggir dari jaring utama agar tidak mudah rusak atau robek pada saat operasi panangkapan. Material pembentuknya PE D/12 dengan mesh size 25 mm. 5.      Tali ris (lead line), tali ris terdiri dari tali ris atas dan tali ris bawah. Bahan yang  digunakan untuk tali ris atas dan tali ris bawah bahan plastik polyethylene (PE) diameter 14 mm. 6.      Pelampung(float), sesuai dengan namanya sudah barang tentu pelampung ini berfungsi sebagai alat untuk mengapungkan sesuatu alat atau bagian-bagian alat tertentu dari suatu jenis alat sesuai dengan tujuannya. Ada beberapa fungsi pelampung pada pukat cincin yaitu :

1)      Sebagai pengapung untuk memberikan adanya daya apung pada alat secara keseluruhan yang dioperasikan dipermukaan air.

2)      Sebagai material pengapung untuk mempertahankan jaring pukat cincin agar selalu berada di permukaan air.

3)      Sebagai tanda atau batas mengurung ikan pada saat operasi penangkapan,  sehingga ikan tidak lolos melewati permukaan air. Pelampung yang digunakan pada purse seine di Tegal adalah pelampung dengan typePVC TF – 17 dengan ukuran panjang 135 mm , lebar  91 mm dan diameter lubang pelampung 18 mm

4).      Cincin (ring), alat ini berguna untuk jalannya tali kerut (kolor) pada waktu jaring ditarik sehingga jaring membentuk kantong. Adapun cincin (ring) yang digunakan terbuat dari bahan monel (stenlees) yang tidak mudah berkarat. berdiameter 145 mm. 8.      Tali cincin (bridle line), tali cincin adalah tali yang menghubungkan antara cincin dengan tali ris atas. Bahan tali cincin yang digunakan adalah polyethylene (PE) diameter 30 mm. 5).      Tali kerut (purse line), tali kerut (purse line) yang dilewatkan pada cincin digunakan untuk menutup bagian bawah jaring pada saat dioperasikan. Dengan ditariknya tali kerut (purse line) ini maka tali cincin akan terkumpul yang kemudian akan membentuk sebuah kantong. Bahkan tali kerut (purse line) biasanya dipilih dari tali yang permukaannya licin, kaku dan tinggi kekuatan putusnya.  Tali kerut terbuat dari bahan polyethylene(PE) diameter 42 mm pintalan Z 10.   Pemberat (singker), pemberat berguna untuk memberikan daya tenggelam pada alat tangkap dan jaring agar dapat terbentang dengan sempurna. Pemberat dipasang dengan menggunakan tali pamberat. Pemberat dibuat dari bahan timah hitam dengan ukuran 50 mm x 25 mm, dengan berat 200 gram/buah. 11.   Tali pemberat,tali yang digunakan  sebagai penghubung pemberat yang satu dengan yang lain, serta berfungsi sebagai penghubung dengan jaring pada tepi bagian bawah Gambar disain dan konstruksi serta spesifikasi purse seine yang digunakan di KM. Soyo Lumintu dapat dilihat pada Lampiran 3 – 4.

  Alat Bantu Penangkapan Ikan Pelaksanaan operasi penangkapan Ikan dengan purse seine diperlukan perlengkapan penangkapan untuk menunjang kelancaran dan keberhasilan operasi penangkapan. Adapun perlengkapan penangkapan tersebut adalah

Kapstan Kapstan biasa disebut gardan oleh nelayan, berfungsi untuk menarik tali kerut dan tali jangkar. Kapstan juga digunakan untuk membantu menarik jaring apabila pada saat melakukan pelingkaran mendapatkan ikan yang sangat banyak yang mengakibatkan kesulitan apabila ditarik dengan menggunakan tenaga manusia karena terlalu berat. Pemasangan kapstan berada di samping  kanan dan kiri geladak bagian tengah, dimana kapstan digerakan dengan menggunakan mesin induk. Kapstan terbuat dari kayu yang mempunyai diameter 30 cm. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada

Roller Roller digunakan sebagai landasan pada saat menarik tali kerut agar dapat dengan mudah ditarik. Roller yang digunakan ada 2 buah dan pada sisi lambung bagian kanan dan kiri kapal lihat Gambar 10 dibawah ini.                                                                                                                                    
  Boom Jumlah boom yang terdapat pada KM. Soyo Lumintu berjumlah tiga buah, yang ditempatkan, satu buah di haluan kapal dan dua buah di lambung kanan dan kiri kapal. Fungsi dari boom yang berada di haluan dan lambung kanan kapal adalah untuk tempat memasang tali, kegunaannya adalah sebagai tempat untuk menggantungkan jaring (tali ris atas) pada waktu hauling, agar pada saat ikan sudah terkumpul di kantong tidak meloloskan diri sehingga mudah untuk diserok (dicaduk). Sedangkan boom yang berada di sebelah lambung kiri berfungsi untuk menarik serok (caduk) ke atas setelah ikan yang berada di dalam kantong jaring masuk ke serok (Gambar 9)

Lampu Atraktor Lampu atraktor(atracting lamp)berfungsisebagai pengumpul kawanan ikan untuk kemudian dilakukan operasi penangkapan dengan menggunakan alat tangkap (Nainggolan, 2007). Hampir semua organisme hidup termasuk ikan yang media hidupnya di air, tertarik oleh cahaya (phototaxis positif), karena itu ikan selalu berusaha mendekati sumber cahaya dan berkumpul di sekitarnya.Lampu yang digunakan oleh di KM. Soyo Lumintu ada dua macam lampu, yaitu lampu tetap dan lampu tidak tetap (lampu bantu). Untuk lampu tetap menggunakan dua lampu yaitu: lampu cumi (galaxy) dan lampu sorot jenis mercury.Lampu cumi dengan jumlah 24 buah masing memiliki kekuatan 2.000 watt total daya 48.000 watt, untuk lampu sorotberjumlah 28 buah masing memiliki kekuatan 1.000 watt, dengan katalain memiliki daya total 28.000 watt untuk lampu sorot.Hal ini tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.18Tahun 2013Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Per.02/Men/2011 Tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia yang berbunyi alat bantu penangkapan ikan dengan menggunakan alat bantu lampu dengan total daya kurang dari 16.000 watt. Sedangkan untuk lampu tidak tetap berjumlah 14 buah yang masing-masing memiliki kekuatan 5-18 watt.Lampu tidak tetap digunakan pada saat operasi penangkapan ikan. Untuk lebih jelasnya lihat padaGambar 10 dibawah ini:
Caduk Caduk(braingnet)alat ini digunakan untuk mengangkat ikankeataskapalpadatahapan brailing. Bagian bawahdiikatdengan khusus seperti mengikat  ujung kantong  trawl, sehingga saat akan mengeluarkan  ikan tinggal menarik ujung ikantannya. Alatinijugasekaligus digunakanuntukmemperkirakan jumlah hasil tangkapan (Ardidja, 2007) Caduk adalah alat yang terbuat dari jaring yang cukup kuat,caduk ini berfungsi untuk mengangkat hasil tangkapan ke atas kapal yang kemudian dimasukan ke dalam palkah. Bingkai caduk berdiameter 1 m terbuat dari besi stenlees, serok ini dapat menampung ikan 1– 1,5 ton.  Lihat Gambar 12 di bawah ini.

Rumpon Rumpon merupakan alat bantu yang digunakan untuk mengumpulkan gerombolan ikan (Nainggolan, 2007).Rumpon yang digunakan oleh nelayan Kota Tegal umumnya menggunakan rumpon tidak tetap dan setiap kapal mempunyai dua rumpon yaitu: rumpon utama dan rumpon bantu. Rumpon dipasang di bagian haluan, memiliki komponen utama yaitu:tali jangkar, pemikat/atraktor dan  pemberat. Sedangkan rumpon bantu biasanya dipasang di buritan kapal, memiliki komponen utama yaitu: pelampung, tali jangkar, pemikat/atraktor dan pemberat. Tali rumpon yang digunakan, terbuat dari bahan plastik multifilamen dengan diameter 20 mm dan panjang 10-20 m. Adapun pemberat yang digunakan adalah pemberat dari semen cor. Untuk atraktornya terbuat waring yang berwarna hijau dan hijau muda yang disusun sedemikian rupa dan diselipkan pada tali multifilament.


My Life Journey

Berlayar adalah sebuah keinginanku sejak aku masuk sekolah pelayaran di daerah Purworejo,Kenapa berlayar? bukan karena nenek moyangku seorang pelaut tapi lebih ke keinginanku saja…kalian taulah kadang keinginan sesorang tidak memiliki alasan yang khusus hehe….

Ada 2 kemungkinan yang menurutku mempengaruhi kenapa aku ingin sekli berlayar.Pertama karena dulu aku sekolah di Smk Pelayaran dan Kedua karena aku suka nonton film anime yang berjudul “One Piece”.

Tau sendirilah mayoritas anak laki-laki pasti suka anime,entah itu Naruto,Fairytail,Detektif Conan dan lebih banyak lagi judul anime yang digemari anak laki-laki.Bukannya ngak dewasa-dewasa,tapi setiap anime itu menurutku sih banyak mengajarkan hal-hal yang baik kok,ngak kebanyakan drama seperti film dan sinetron alay-alay diluar sana yang bisa merusak masa kecil generasi milenium sekarang.Eh malah nyasar bahas anime jadi keluar jalur pembahasan.

Aku pernah putus asa untuk melanjutkan keinginanku meneruskan ke kampus pelayaran.Hal itu terjadi karena aku melakukan kesalahan.Sebenarnya bukan kesalahan yang fatal tetapi kekurang telitian dan waktu itu aku belum tau betul sekolah yang aku masuki.Aku masuk di sekolah smk perikanan…memang betul menurutku banyak ilmu yang aku dapat entah itu dari perikanan sendiri maupun untuk pelayaran,eh aku belum ngasih tau nih..dulu aku mengambil jurusan nautika di smk.Nautika kapal penangkap ikan lebih tepatnya.Karena itu selama 3 tahun aku terjebak di pendidikan perikanan.Sebenernya sih tidak hanya berdampak buruk tetapi ada dampak baiknya juga.

Pelayaran pertamaku diawali pada saat masa PKL di daerah Juwana,Pati.Aku pertama kalinya naik kapal ikan di daerah Juwana,Pati.Kapal itu bernama “Bintang Mas Champion”.Kapal ikan yang memiliki GT 75 dan dibuat di Juwana.Tujuan Awal kapal berangkat itu mencari ikan di daerah Madura,Kalimantan,Sulawesi.Aku tidak bisa membayangkan awalnya disana.Bagaimana bisa kapal kayu yang seukuran itu bisa hidup terombang ambing di tengah laut tanpa ada alat keselamatan ataupun peralatan canggih seperti yang ada di kapal-kapal besar yang terbuat dari besi dan ukurannya beratus-ratusan GT.Tapi mau tak mau aku harus ikut kapal itu karena PKL itu mempengaruhi kelulusanku besok.

Pelayaran pertamaku diatas kapal Bintang Mas Champion adalah pengalaman yang sangat berkesan,karena banyak hal yang aku dapatkan.